Ghost

My Button Collection

Hope someday there will be someone who will do these just for me, amin :’)

Hope someday there will be someone who will do these just for me, amin :’)

I wanna it so damn! but unfortunately I don’t have couple. Poor me -___-

I wanna it so damn! but unfortunately I don’t have couple. Poor me -___-

I’ll never repeat the same mistakes like I did before. Take this 15 ways to keep relationship working so I’ll get a nice relationship with someone who I loved :)

I’ll never repeat the same mistakes like I did before. Take this 15 ways to keep relationship working so I’ll get a nice relationship with someone who I loved :)

Sebulan Setelah Kepergianmu

Untuk…. haruskah kusebut namamu?

Berawal dari sebuah perkenalan yang begitu singkat, pertemuan yang cukup beberapa saat lalu kamu katakan cinta lalu kamu tunjukan rasa lalu (sempat) kita bahagia dengan cinta “instan” yang kita lalui berdua.

Memang tak banyak kenangan yang  kita lewati bersama, dua bulan tak cukup untuk meyakinkanmu. Kemudian kamu memalingkan muka dan mengambil kesimpulan, kamu berpikir pendek dan melepaskan aku begitu saja. Ya kita telah putus, tapi ketahuilah kenanganku tentangmu belum benar-benar putus.

Sehari setelah kamu meninggalkanku masih kupendam cinta dibalik rasa benci itu, seminggu setelah kamu melepaskanku masih ku menangis mengingatmu dan sebulan setelah kepergianmu aku tersenyum kemudian menulis ini untukmu.

Aku membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu, walau tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik ke layar handphone-ku namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu diiringi semangat yang memasok energiku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Lalu, aku menjalani semua aktivitasku seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi pesan singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku lakukan. Tapi…entah mengapa aku merasa seperti kehilangan, tanpa pernah tahu apa yang telah hilang. Aku seperti mencari, tanpa tahu apa yang telah kutemukan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit untuk di deskripsikan. Aku bercermin, tampak berbeda dan tidak mengenal siapa diriku. Seseorang yang kukenal di dalam tubuhku kini menghilang setelah kepergianmu. Kamu merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah dimana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang kukenal itu ke dalam tubuhku. Aku kebingungan dan kehilangan arah.

Ingin rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa lagi melihat diriku yang tak lagi kukenal. Agar aku tak perlu menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. Aku bisa berhenti memercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi seperti ini. Aku mungkin akan berhenti memercayai lawan jenis dan segala janji-janji bodohnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan rasa sakit yang telah kau sebabkan.

Aku menyesal saat masih bersamamu tidak seutuhnya menjadi diriku sendiri. Aku terlalu menjaga image dan membatasi sikap. Kupikir dengan begitu hubungan kita akan bertahan lama, kamu akan memandang baik diriku namun justru itu yang (mungkin) membuat hubungan kita terkesan flat. Seringkali saat bersamamu rasa percaya diriku bersembunyi, merasa aku tak pantas untukmu, tapi mengapa kamu masih memilihku jika pada akhirnya akan meninggalkanku? Pada kenyataannya kamu lebih menyukai wanita yang sudah menyakitimu berulang kali, wanita yang kamu bilang telah menginjak harga dirimu, dia yang sangat-sangat berkuasa di hatimu.

Kuakui betapa bodohnya kamu, berdiri di depan pintu yang tertutup disaat ada pintu lain yang terbuka lebar untukmu. Padahal kamu yang telah membuka pintu itu tetapi kamu pula yang membiarkannya terbuka, kosong.

Harusnya dari awal aku menyadari kamu tidak bisa lepas darinya. Setelah tahu kamu tidak hafal nomor handphoneku, tak ada yang spesial namaku dalam kontak di handphonemu, tidak menyimpan fotoku dalam dompetmu, tidak menghangatkanku dengan jaketmu, tidak menggenggam tanganku disaat jalan bersamamu, tidak memelukku kemudian mengatakan “aku ingin selalu bersamamu, menjagamu dan melindungimu apapun yang terjadi”. Hal sepele memang tapi aku yakin kamu pernah melakukan itu semua pada dia, tak perlu diminta. Aku iri dan cemburu~

Bagaimana bisa aku mengatakan kepada orang tuaku bahwa hubungan kita telah berakhir disaat mereka masih sering menanyaimu, terasa hantaman yag sangat memilukan ketika mereka bertanya bagaimana kabarmu, apa kamu masih suka menghubungiku,  dan hal-hal lain yang bersangkutan dengan dirimu.

Begitu pula halnya dengan teman-temanku, kita seringkali berbagi cerita tentang pacar masing-masing bahkan tak jarang mereka memanggilku dengan namamu. Tak mungkin disaat seperti itu aku menyampaikan kalau aku sudah putus, aku tak ingin mendengar gunjingan mereka dan menjadi bahan pembicaraan di belakang yang bisa membuyarkan pikiranku. Karna tak ada lagi kamu yang melindungiku seperti dulu saat pertama kita pacaran.

Apa yang harus dirugikan setelah ditinggalkan oleh orang yang tidak menyayangiku? Bukankah yang rugi itu dia yang telah meninggalkan orang yang menyayanginya, tulus.  Namun begitu sulitnya aku melupakanmu dan begitu mudahnya kamu melupakanku. Inikah caramu menyakiti seseorang yang tak pantas kau lukai?

Tak banyak hal yang harus aku lakukan selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan berharap kamu tidak menorehkan luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka hingga aku terbiasa dan mengganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka airmata yang seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terima kasih.

Dengan luka seperti ini.

Dengan rasa sakit sedalam ini.

Aku jadi tambah sering menulis.

Lebih banyak dari biasanya.

Aku semakin percaya bahwa Khalil Gibran butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis banyak hal.

Sama halnya denganku, lancar menulis terutama bercerita tentangmu.

from my deepest heart

_hilda_

Semoga Tidak Kamu Lagi

Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia. Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu. Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk, supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan, sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit.

Namun ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu, ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi tubuhku dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku. Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku, itu karena aku mampu terima kamu apa adanya. Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi. Sebab hidup  jadi terasa bagaikan dinding yang dingin. Aku harus menjadi paku, sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya. Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.

Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas. Amin.

Letting go is the easy part, it’s the moving on that’s painful. So sometimes I fight it, try and keep things the same. Things can’t stay the same though. At some point I just have to let go, move on, because no matter how painful it is, it’s the only way I grow.

Button Theme